Novel Perahu Kertas

Penulis: Dee
Novel Versi PDF

Dalam novel ini Deemengisahkan tentang Kugy, cewek mungil, pengkhayal, dan berantakan. Dari benaknya, mengalir untaian dongeng indah.Keenan belum pernah bertemu manusia seaneh itu.

Dan seorang cowok yang bernamanya Keenan. Cerdas, artistik, dan penuh kejutan. Dari tangannya, mewujud lukisan-lukisan magis.Kugy belum pernah bertemu manusia seajaib itu.

Dan kini mereka berhadapan di antara hamparan misteri danrintangan. Akankah dongeng dan lukisan itu bersatu?

Akankah hati dan impian mereka bertemu...


Terbagi dalam 73 Golongan, benarkah?



Rasulullah saw bersabda:
“Kaum (umat) Yahudi akan terpecah diantara mereka menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan, dan kaum (umat) Nasrani akan terpecah diantara mereka menjadi tujuh puluh satu atau tujuh puluh dua golongan. Dan umatku akan terpecah diantara mereka menjadi tujuh puluh tiga golongan”(Abu Daud, at-Tarmizi, al-Hakim, dan Ahmad adalah beberapa orang diantaranya yang merawikan hadits ini.)

Dalam versi yang lain, Imam Ahmad mencatat bahwa Abu Amir Abdullah bin Luhay menyatakan: “Kami sedang melaksanakan haji bersama dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan. Ketika kami sampai di Mekah, dia (Mu’awiyah) berdiri setelah menyelesaikan shalat Zuhur dan berkata; ‘Rasulullah saw bersabda:“Para ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) akan terbagi/terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan. Umat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan seluruhnya akan terjatuh kedalam api neraka kecuali satu golongan. Beberapa dari umatku akan dikendalikan oleh hawa nafsunya, sebagaimana seseorang yang terjangkit penyakit anjing gila; tidak ada sebuah pembuluh darah ataupun sendi tubuhnya yang selamat dari nafsu ini.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Daud (2/503), Ahmad (4/102) dan al-Hakim (1/128) beberapa diantara banyak perawinya, dengan kata-kata yang sama tetapi ditambah dengan kata-kata berikut: “Tujuh puluh dua masuk kedalam neraka dan satu masuk ke surga: yaitu Jama’ah.” Beberapa ulama, seperti as-Shawkani dan al-Kawthari salah pengertian ketika menyatakan bahwa kata tambahan ini lemah. Ibnu Hazim salah besar ketika ia menyatakan bahwa kata-kata tersebut ‘dibuat-buat’ (ditambah-tambahi).

Sangat penting bagi seorang muslim untuk mengerti isi hadits ini dengan konteks yang jelas dan benar. Jadi, dengan pertolongan dari Allah SWT, sebuah presentasi yang mendetail mengenai maksud dari hadits ini, manifestasi sejarahnya, dan pengaruh yang dihasilkannya kepada cara pandang/anggapan umat Islam antara satu dengan yang lain akan dipaparkan. Hadits ini telah digunakan oleh orang-orang tertentu untuk meremehkan/memandang rendah saudaranya yang lain; sehingga beberapa saudara kita yang mengikuti Ijtihad dari Seikh Mohammad bin Abdul Wahab, misalnya, menganggap saudara-saudaranya (sesama muslim) yang tidak mengikuti Ijtihad mereka, sebagai golongan yang akan masuk kedalam neraka (sesat). Dan beberapa yang mengikuti mazhab Shafi’i menyatakan hal ini juga terhadap saudara-saudaranya (sesama muslim) yang mengikuti mazhab Hanafi, dan begitu pula yang dinyatakan oleh beberapa pengikut mazhab Hanafi tentang Shafi’i, dan seterusnya…dan seterusnya. Beberapa pengikut Sunni juga menyatakan hal yang sama kepada pengikut Shiah, dan begitu juga sebaliknya. (Jangankan mazhab, antar harakah saja sudah menyatakan sesat antara satu dengan yang lainnya..-pent-)

Hadits tersebut menyebut kata ‘Firqah’; kata ini mempunyai lafaz mushtaraq, atau homonim. Kata ini merupakan kata yang mempunyai banyak arti/makna. Allah SWT menyebut kata ini dengan berbagai makna dan konteks yang berbeda di dalam al-Qur’an.

Contohnya:
Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi beberapa orang [firqah] dari tiap-tiap golongan [taifah] di antara mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya (dari kejahatan). (QS. at-Taubah: 122)

Disini, kata firqah digunakan untuk menyatakan beberapa orang (grup) atau utusan yang melaksanakan perintah Allah. Dalam ayat yang lain:

Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan (firqah) yang memutar-mutar lidahnya membaca Al-Kitab, supaya kamu menyangka apa yang dibacanya itu sebagian dari Al-Kitab, padahal ia bukan dari Al-Kitab dan mereka mengatakan:Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali-Imran: 78)

Kembali disini kata firqah digunakan, tapi dalam konteks ini, sebagai sesuatu/seseorang yang dikutuk, karena tindakan yang mereka lakukan telah menyimpang dari wahyu Allah.

Jadi konteks (makna) dari isi kalimat tersebutlah yang mengindikasi arti sebenarnya dari kata yang dipergunakan.

Dengan rasa hormat kepada hadits tersebut, Rasulullah saw menjelaskan kepada kita semua bagaimana umat Yahudi akhirnya terpecah kedalam 71 golongan atau firqah, dan umat Nasrani pun sama, terpecah kedalam 71 firqah. Dan Rasulullah saw menyatakan pula bahwa umat Islam pun akan terpecah menjadi 73 golongan, dan seluruh golongan tersebut kecuali satu yang mengikuti Rasul saw dan sahabat-sahabatnya, akan masuk kedalam neraka.

Jadi, menyatakan pembagian diantara golongan umat muslim diatas, yang diperbandingkan dengan kaum Yahudi dan Nasrani menunjukan kata tersebut sebagai orang/golongan yang terkutuk karena telah melakukan sesuatu hal yang menyimpang sebagaimana Ahlul Kitab yang sebelumnya (Yahudi dan Nasrani). Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, di area (bagian) manakah umat Yahudi dan Nasrani yang tidak sepakat dalam menjalankan agama mereka dan bagaimana ketidaksepakatan mereka itu berakibat pembentukan berbagai ‘firqah’ atau golongan? Al Qur’annul Karim memerintahkan kita untuk tidak ‘terpecah-belah’ sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani. Disini, sangatlah penting bagi kita untuk mengerti hal-hal yang menyebabkan terpecahnya umat Ahlul Kitab tersebut:

a) Mereka ingkar terhadap Nabi-nabi mereka. Allah SWT berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti kebenaran (mu’jizat) kepada ‘Isa putera Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu menyombong; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan beberapa orang (yang lain) kamu bunuh. (QS. Al-Baqarah: 87)

Dan kemudian Allah SWT berfirman:
“..Dan Kami berikan kepada ‘Isa putera Maryam beberapa mu’jizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir….. (QS. Al-Baqarah: 253)

b) Mereka juga mengingkari kitab-kitab mereka. Allah SWT berfirman:
…..Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali-Imran: 19)

c) Diantara mereka terpecah satu sama lainnya, dan saling tuduh-menuduh bahwa fihak yang satu lebih baik dan yang fihak lain adalah kafir. Allah berfirman:
Dan orang-orang Yahudi berkata:”Orang-orang Nasrani itu tidak punya suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata:”Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengucapkan sama seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. Al-Baqarah: 113)

Jika kita pelajari di wilayah/bagian mana diantara mereka yang berbeda dan menyimpang, kita akan melihat bahwa mereka berbeda pada hal-hal yang paling mendasar (fundamental) pada agama mereka. Mereka ingkar kepada Nabi-nabi mereka, mereka ingkar terhadap hari pengadilan (hisab), mereka ingkar terhadap keEsa-an Allah, hari berbangkit kembali (di padang mahsyar), surga dan neraka, dan lain-lain. Perbedaan ini merupakan perbedaan pada pondasi kepercayaan dan agama mereka. Karena Allah SWT dan Rasulullah saw memerintahkan kita agar kita tidak terpecah-belah sebagaimana para umat Ahlul Kitab yang lain, maka kita harus menghindari hal-hal/wilayah-wilayah dimana perbedaan dari para ahli kitab tersebut muncul. Ini berarti perbedaan mengenai dasar/pondasi keagamaan kita akan dikutuk oleh Allah, dan hal inilah yang menjadikan seorang muslim/kelompok muslim jatuh menjadi kafir. Untuk lebih jelas lagi, mari kita lihat ayat dibawah ini:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu terpecah-belah… (QS. Ali-Imran: 103)

Ayat diatas telah menerangkan dengan jelas sekali, Allah telah memerintahkan umat muslim untuk berpegang teguh kepada agama Allah, dan tidak melepaskan agama (perintah dan peraturan yang telah diturunkan dan ditentukan) Allah, dan jangan terpecah-belah.

‘Tali (agama) Allah’

Ibnu Mas’ud ra, Ali bin Abi Talib ra dan Abu Sa’id Al-Kuddrri ra menyatakan bahwa kata ‘tali Allah’ tersebut adalah AlQur’an. Yang lain menyatakan bahwa kata di atas berarti agama Allah (Dien). Ada juga beberapa, seperti Ibnul Mubarak yang mengatakan kata ‘tali Allah’ tersebut adalah Jama’ah.

‘Dan jangan terpecah-belah’

At-Tabari menyatakan; “…..dan janganlah memisahkan diri dari agama (Dien) Allah dan seruanNya yang tercantum dalam Kitab-Nya: bahwa kamu harus bersama-sama dalam menaati perintah-Nya dan Nabi-Nya saw.”

Ibnu Katsir berkata: “Dia (Allah) memerintahkan mereka (umatnya) untuk tetap berada dalam Jama’ah dan jagan memisahkan diri”

Al-Qurtubi berkata: “ Jangan terpecah-belah sebagaimana kaum Yahudi dan kaum Nasrani dalam agama (Dien) mereka…. dan itu bisa berarti jangan berpisah hanya berdasarkan nafsu-nafsu/keinginan- keinginanmu, dan hanya berdasarkan minat/kepentingan-kepentinganmu.”

Oleh karena itu, perbedaan yang tidak diperbolehkan bagi umat adalah perbedaan dalam inti/pondasi dalam Dien (misal: rukun Iman, rukun Islam, peraturan yang jelas termaktub dalam al-Qur’an,-pent-) mereka, dan bukan dari cabang-cabangnya. Hal ini berdasarkan atas beberapa sebab:

a) Sunnah dari Rasulullah saw yang memperbolehkan perbedaan pendapat dalam pelaksanaan, cabang (Furu’).

b) Perbedaan pendapat yang terjadi diantara para sahabat ketika berada dalam masalah Furu’, bukan didalam Usul (fondasi dari Dien). Tidak ada hukuman/teguran yang dibuat tentang perbedaan pendapat semacam itu.

c) Kaum Tabi’ien dan generasi selanjutnya yang mengikuti mereka, serta para ulama-ulama salaf (pendahulunya) menerima perbedaan pendapat dalam Furu’ tetapi tidak jika sudah menyangkut Usuluddien (pondasi agama/Dien).

Sebagai contoh, Ash-Shafi’i ra menyatakan dalam bukunya Ar-Risalah; “Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua: Yang satunya haram dan yang lainnya tidak. Segala sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah dan telah nyata terbukti (Hujjah) di dalam Kitab-Nya atau dengan jelas dinyatakan oleh Rasulullah saw adalah haram untuk tidak diakui (ingkari) oleh orang yang telah mengetahui hal tersebut (isi ketentuan tersebut –pent-). Sedangkan bagian lain yang bisa diartikan/mempunyai makna yang berbeda atau dengan analogi (kiasan), karena teks (AlQur’an dan sunnah) tersebut bisa dikatakan masih sederhana/masih merupakan dasar….. masih ada ruang untuk perbedaan pendapat/pelaksanaannya, tidak seperti teks yang jelas/terang maknanya.

Ibnu Taymiyah ra dalam bukunya al-Fatawa al-Kubra, vol.20, hal.256 menyatakan; “Kemudian, teks-teks tersebut (sunnah) terbagi atas: Yang pasti/jelas dalam dalalah (arti)nya. Kepastiannya ditentukan oleh perawi-perawinya (Sanad) dan juga isinya (Mata), jika kita sudah pasti bahwa Rasulullah saw menyatakannya dan maknanya sama dengan yang dinyatakannya.Yang lain adalah yang tidak pasti/jelas dalalah (makna/arti)nya. Sebagaimana yang pertama, teks tersebut harus dipercayai dan dilaksanakan menurut pendapatnya masing-masing. Hal ini disepakati oleh ulama pada umumnya. Yang mungkin jadi perbedaan pendapat dari para ulama, dibeberapa berita (hadits) apakah para perawinya jelas/pasti (Qat’i) atau tidak. Sebagai contoh sebagaimana perbedaan pendapat tentang apakah kabar/hadits yang di bawa oleh hanya seorang (Khabarul Wahid/kabar ahad) hanya bisa diyakini (diimani) oleh umat, atau salah satu hadits yang bisa disetujui umat untuk dilaksanakan.”

Jadi, permasalahan tentang hadits yang didiskusikan (hadits diatas tentang pembagian firqah/golongan) tersebut bukanlah tentang perbedaan-perbedaan yang timbul dari interpretasi/penafsiran dari teks-teks (al-Qur’an dan hadits yg dalalahnya tidak terang) tersebut, yang interpretasinya sangat mempengaruhi dalam menentukan arti/makna teks tersebut. Tetapi mengutuk firqah-firqah (golongan-golongan) yang berbeda dalam pondasi Dien-nya. Yang pasti, para sahabat seringkali berbeda pendapat pada banyak hal, yang terkait kepada masalah-masalah cabang (misal: cara pelaksanaan shalat, hukum tata negara, dan lain-lain) dari Dien, tetapi mereka tetap sepakat dan mempunyai hanya satu pendapat jika masalahnya adalah masalah pondasi dari Dien/agama. Kemudian, Mujtahid-mujtahid besar dalam Islam pun mempunyai perbedaan pendapat di berbagai aspek agama Islam, tetapi sekali lagi masalah yang menjadi dasar perbedaan tersebut adalah dalam cabang-cabang. Jadi ‘firqah’ yang dihukum dan masuk ke dalam api neraka, bukanlah grup/golongan yang mempunyai perbedaan-perbedaan yang sah dan diperbolehkan. Oleh karena itu, mereka-mereka yang mengikuti mazhab-mazhab tertentu seperti Shafi’i, Hanafi, Hambali, Maliki, bahkan mereka yang mengikuti faham ulama-ulama pemikir dari Shi’ah seperti Ja’fari atau Zaidi, tidaklah bisa diberi label ‘kafir’atau ‘sesat’ (Apalagi hanya sekedar perbedaan ‘kecil’ seperti beda grup dan harakah).

Sebaliknya, golongan-golongan/firqah yang disebutkan didalam hadits tersebut adalah mereka yang telah meninggalkan lingkup Islam seperti Qadiani (Ahmadiyah) yang mengklaim kenabian sesudah nabi Muhammad saw, atau mereka-mereka yang termasuk kedalam kelompok Alawi, yang mengklaim bahwa Ali ra merupakan inkarnasi/titisan Tuhan (semoga Allah melindungi kita dari kesesatan tersebut) atau mereka yang mengingkari adanya hukuman di akhirat, dan lain-lain. Kelompok apapun yang kepercayaannya berlawanan dengan ayat-ayat AlQur’an yang terang/jelas, berarti telah jatuh dan keluar dari lingkaran Islam.

Salah seorang ulama dari mazhab Hanafi, Ibnu Abidin menyatakan; “Tidak ada keraguan terhadap kesesatan (kekafiran) mereka yang menyatakan tuduhan palsu bahwa Sayyida Aisyah ra telah berzina, menolak persahabatan Sayyidina Abu Bakar ra, mempercayai bahwa Sayyidina Ali ra adalah Tuhan atau bahwa malaikat Jibril telah salah menurunkan wahyu kepada Rasulullah saw, dan lain-lain, yang telah jelas kafir dan berlawanan dengan ajaran Qur’an.” (Radd al-Muhtar, 4/453).

Ibnu Abidin meneruskan; “ adalah sulit untuk membuat pernyataan secara umum bahwa Shi’ah telah sesat, karena para ulama memperbolehkan adanya perbedaan dan penyeberangan (perpindahan) dari golongan-golongan yang berbeda.”

Bahkan ulama Shi’ah, Allama Muhammad Hussein Tabatabai, menulis didalam penafsirannya yang sangat terkenal, Tafsir-ul-Mizan, edisi ke 12, halaman 109, yang diterbitkan di Iran, tentang kesempurnaan al-Qur’an: “al-Qur’an, yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, dilindungi dari perubahan apapun.”

Sayangnya, ketidak fahaman dan kefanatikan dari beberapa grup-grup tertentu telah menyebabkan mereka menilai grup yang lain takfir atau khawarij, seperti yang telah di lakukan oleh Yahudi dan Nasrani. Ini adalah cara berfikir yang hanya menghargai pendapat mereka sendiri, dan pandangan mereka terhadap masalah apapun yang menyangkut Dien (agama Islam) sebagai ‘tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya’. Dan kepercayaan atau pendapat yang lain yang berlawanan atau mempunyai perbedaan walau sedikit dari pendapat mereka adalah tidak layak, tidak masuk akal atau sesat.

Umat Muslim adalah satu. al-Qur’an bisa didapat disetiap mesjid, diseluruh penjuru dunia, apakah letaknya di Karachi, Teheran, Kairo, Madinah, atau Algeria adalah satu. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku. (QS. Al-Anbiya: 92)

Bagaimanapun seorang muslim merupakan saudara dari muslim yang lain, apakah dia itu Shiah, Sunni atau siapapun ahli (ulama) yang ia tiru atau Mujtahid yang mana yang ia ikuti ajarannya. Hal inilah yang telah di ajarkan Rasulullah saw kepada kita;

“Seorang muslim merupakan saudara dari muslim yang lain, dia tidak menindas(saudara)nya dan dia juga tidak menyerahkannya kepada musuh, dia tidak mengecewakannya, dan juga tidak memepermalukannya.”

Allah SWT berfirman:
…..Dialah (Allah) yang telah menamai kamu sebagai orang-orang muslim…. (QS Al-Hajj: 78)

Apapun perbedaan pendapat yang muncul, adalah sesuatu hal yang bisa kita serahkan kembali kepada ayat suci;

Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)

Jadi, jelaslah bagi mereka yang telah mengamati dan menyadari, bahwa kaum kuffar (kafir) telah bergabung bersama melawan kita umat Islam dan menjebak kita semua kedalam suatu kurungan (jebakan) besar dan tidak akan membiarkan satu haripun lewat tanpa menumpahkan darah beberapa orang muslim. Walaupun faktanya orang-orang kafir tersebut terpecah-pecah agamanya sesuai dengan keinginan dan nafsunya masing-masing, tetapi mereka bersatu dalam perang melawan Islam, dan berlomba-lomba melawan rasa permusuhan mereka (dalam mewujudkan hal tersebut). Jadi tidak inginkah kita bersatu bersama untuk melawan mereka, dalam ikatan Islam, bukannya secara dibuat-buat dan dicari-cari memisahkan diri masing-masing kedalam label ‘Sunni’ atau ‘Shiah’, ataupun berbagai mazhab-mazhab dan kelompok-kelompok yang lain?

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (keharusan persaudaraan dan kesatuan yang teguh antara kaum muslimin), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. (QS. Al-Anfal: 73)


Menguak Rahasia Dibalik Wudhu


Pernahkah kita memikirkan mengapa Allah memerintahkan umat Islam untuk berwudhu sebelum mendirikan sholat lima waktu? Mengapa Rasul dan sahabatnya selalu berusaha untuk menjaga wudhunya? Di dalam ajaran Islam sebenarnya banyak hal ibadah yang terlihat sederhana dan mudah dilakukan ternyata memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan jasmani dan rohani, contohnya adalah wudhu.
Wudhu dan Kesehatan Jasmani
Wudhu ternyata memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan. Hal inilah yang dibuktikan oleh Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan neurolog asal Austria yang menyatakan bahwa wudhu mampu merangsang pusat saraf dalam tubuh manusia. Hal ini disebabkan karena  keselarasan air wudhu dan titik-titik saraf sehingga kondisi tubuh akan senantiasa sehat.
Ulama fiqih juga menjelaskan bahwa wudhu juga merupakan upaya untuk memelihara kebersihan. Daerah yang dibasuh dengan air wudhu seperti tangan, daerah muka, dan kaki merupakan bagian yang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing, termasuk kotoran. Oleh karena itu, daerah tersebut harus dibasuh untuk menghindari penyakit kulit yang umumnya sering menyerang permukaan kulit yang terbuka dan jarang dibersihkan seperti sela-sela jari tangan, kaki, dan belakang telinga.
Berbagai penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa munculnya penyakit kulit disebabkan oleh rendahnya kebersihan kulit. Untuk itulah orang yang memiliki aktivitas padat terutama di luar ruangan disarankan untuk selalu membasuh dan mencuci anggota badannya yang terbuka seperti kepala, muka, telinga, tangan dan kaki.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Salim terungkap bahwa wudhu dengan cara yang baik dan benar akan mencegah seseorang dari berbagai penyakit. Muhammad Salim juga menganalisis masalah kesehatan hidung dari orang-orang yang tidak berwudhu dengan orang yang berwudhu secara teratur selama lima kali dalam sehari untuk mendirikan shalat. Salim mengambil zat dalam hidung pada selaput lendir dan mengamati beberapa jenis kumannya. Berdasarkan analisisnya, lubang hidung orang-orang yang tidak berwudhu memudar dan berminyak, terdapat kotoran dan debu pada bagian dalam hidung, serta permukaannya tampak lengket dan berwarna gelap. Sedangkan orang-orang yang teratur dalam berwudhu, permukaan rongga hidungnya tampak cemerlang, bersih, dan tidak berdebu.
Mokhtar Salem dalam bukunya “Prayers a Sport for the Body and Soul” menjelaskan bahwa wudhu dapat mencegah kanker kulit. Jenis kanker ini banyak disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap hari menempel dan terserap oleh kulit. Apabila dibersihkan dengan air (terutama saat berwudhu), maka bahan kimi tersebut akan larut bersama air. Selain itu, wudhu juga dapat membuat seseorang menjadi tampak lebih muda.
Sejarah hidup Rasulullah seperti yang diungkapkan oleh Muhammad Husein Haykal dalam bukunya “Hayatu Muhammad”, Rasullah sepanjang hidupnya tidak pernah menderita sakit kecuali saat sakaratul maut hingga wafatnya. Wudhu dengan cara yang benar dapat mencegah berbagai penyakit dan inilah salah satu alasan mengapa Rasulullah senantiasa menyarankan para keluarga dan sahabatnya untuk menjaga wudhu.
Wudhu dan Kesehatan Rohani
Rasulullah bersabda: “Mereka (umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki, karena bekas wudhu mereka.” (HR. Muslim no. 249).
Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu atau bersama akhir tetesan air wudhu. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu atau bersama tetesan akhir air wudhu, hingga ia selesai dari wudhunya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” (HR Muslim no. 244).
Wudhu mencapai aspek kejiwaan dan hikmah yang tertinggi dari aktivitas membasuh sejumlah anggota wudhu. Dengan membasuh muka, berharap wajah terlindungi dari dosa yang dilakukan mata. Ketika membasuh tangan, berharap tangan terjaga dari dosa yang belum dilakukan dan dibersihkan dari kekhilafan yang dilakukan di masa lalu. Saat mengusap kepala, berharap agar pikiran mereka terlindungi dari pikiran-pikiran yang tidak syar’i. Ketika membasuh telinga, semoga hal itu dapat menghapuskan dosa yang dilakukan oleh telinga. Dan ketika membasuh kaki, berdoa agar Allah senantiasa membimbing agar tetap berada di jalan yang lurus (Islam).
Semoga kita tetap istiqomah untuk menjaga wudhu sepanjang hari serta memelihara kesucian hati, jiwa, lisan, dan seluruh tubuh.
Wallahu ‘alam.

Cita-Citaku Setinggi Tanah


SutradaraEugene Panji
ProduserEugene Panji
PemeranM Syihab Imam Muttaqin
Rizqullah Maulana Daffa
Iqbal Zuhda Irsyad
Dewi Wulandari Cahyaningrum
Nina Tamam
Agus Kuncoro
Donny Alamsyah
StudioHUMANPLUS PRODUCTION
NegaraBendera Indonesia Indonesia
Bahasa Bahasa Indonesia

Sudah beberapa kali Satria cerita bahwa mas Daffa (kakak kelasnya sekaligus teman taekwondonya) main film baru lagi. Dan Satria beberapa kali ngajak nonton filmnya. Sampai hari Minggu kemarin, saya masih engga ngeh yang mana filmnya dan seperti apa isi filmnya.
Nah, beruntunglah pada hari Minggu sore kemarin saya sempat menonton acara Kick Andy di MetroTV. Kebetulan menjelang jam 5 sore tamunya adalah sutradara dan pemain film Cita-citaku Setinggi Tanah. Dari situlah, saya baru paham filmnya seperti apa. Ternyata memang wajib ditonton !! Selain ceritanya memang bagus, hal lain adalah bahwa semua pemasukan dari penjualan tiket film ini disumbangkan ke YKAKI (Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia).
Yang paling bikin saya ngebet pengin nonton film tersebut selain 2 hal diatas adalah karena pemain utamanya asli anak Muntilan, syutingnya juga ternyata di daerah sana di lereng Merapi.
Akhirnya Senin sore kemarin saya sempatkan nonton bersama Satria dan ayahnya di Studio 21 Ambarrukmo Plaza. Sehari cuma diputar 2 kali yaitu jam 15:00 dan jam 16:55.
“Punya cita-cita setinggi langit itu biasa. Punya cita-cita berguna itu juga biasa. Punya cita-cita mulia juga bukan hal luar biasa. Punya cita-cita yang tak terdengar seperti sebuah cita-cita dan berjuang sepenuh hati untuk mewujudkannya itu baru luar biasa!”
Sekali lagi, isi ceritanya bagus banget, tentang motivasi tentunya. A story about dreams. Ada 4 anak bersahabat yaitu Agus, Puji, Jono dan Sri (Mey) yang masing-masing punya cita-cita. Oiya Jono diperankan oleh Rizqullah Daffa (kakak kelasnya Satria, yang gendut itu). Dari keempat anak tersebut, cita-cita yang katanya paling engga tinggi adalah cita-citanya Agus, yaitu pengin bisa makan di restoran Padang. Kata mbah Tapak, cita-citanya sudah tepat. Tapi cita-cita itu bukan cuma untuk ditulis saja, tapi untuk diwujudkan. Dream are never meant to be written, they are meant to be realized.
Agus berasal dari keluarga sederhana. Ibunya setiap hari memasak tahu bacem. Ternyata memang bapaknya Agus bekerja di pabrik tahu. Walau sebenarnya bosan, tapi Agus tidak pernah menolak makan dengan menu tahu bacem. Hehehe.. jadi inget anak-anak biasanya protes ketika bosan atau ga mau makan dengan menu tertentu. Karena orang tuanya adalah keluarga yang sederhana, tentunya Agus tidak ingin minta uang kepada orang tuanya hanya untuk makan di restoran Padang. Lha wong minta uang untuk bikin sesuatu (prakarya) saja tidak dikasih oleh orang tuanya. Nah, untuk mencapai cita-citanya tersebut si Agus mengumpulkan uang di celengan bambunya. Uang yang ditabung berasal dari sebagian uang jajan yang diberikan oleh ibunya, upah mengantar ayam ke restoran Padang, hasil menjual keong, dan lain-lain.


Setelah uangnya terkumpul, kemudian celengannya dipecah, sebagian uang dipakai untuk beli manik-manik untuk membuat topi ala Padang. Sayangnya, sisa uang yang lainnya jatuh tercebur ke sumur. Sedih pasti !! Sampai pada suatu saat mbah Tapak bilang bahwa rejeki itu tidak hilang, rejeki itu hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali. Dan benar, ketika Eyang Uti Agus hendak pulang ke Jogja, beliau memberikan uang kepada Agus.

Makam Pohon mangga



Di belakang rumah itu, Emak selalu bercerita. Dibawah pohon mangga yang dulu Berjaya. Berbuah luar biasa banyaknya, dengan dengan ukuran yang membuat mulut sedikit menganga sambil mengecap dan menelan ludah.
Sepanjang musim mangga tiba, anak-anak tetangga selalu bergembira. Mereka akan makan mangga. Begitu yang Eyang lakukan waktu emakku masih kecil. Membagi-bagikan mangga yang sudah masak.
Tak satupun buah mangga yang kata orang-orang laku mahal itu membuat Eyang  terbujuk untuk menjualnya kepada tengkulak. Tak sedikit pula tengkulak menawarkan  banyak uang, tapi oleh eyang hanya dikasih dua buah dan mengembalikan uangnya.
Kalau pagi tiba, para tetangga silih berganti menyirami pohon mangga dengan air bekass cucian ikan. Biar tambah manis, katanya. Bahkan sampai sekaran, saat emak sudah hamper seusia Eyang dulu, para tetangga masih setia menyirami pohon mangga. Kau kenapa tak mau berbuah lagi, katanya.
Dahan paling besar itu sudah lama merunduk. Abangmu kalau marah pasti bersembunyi dibalik pohon mangga itu, kata emak. Itu waktu abangku masih kecil. Tapi sampai aku sudah tak memakai seragam putih abu-abu, belum juga kulihat bagaimana rupa abangku itu. Sejak kecil yang kutau hanya aku punya abang bernama Badrun. Itu saja.
Abangmu Badrun entah sudah setua apa sekarang. Emak selalu menghembuskan napas panjang kalau memikirkan hal itu. Kalau keluar kota lalu bertemu seseorang bernama Badrun, aku selau berharap dialah Badrun anaknya Emak. Oh, saya Ahmad Badrun anak si Suta, Oh, saya Dul Badrun anak si Naya. Tak satupun nama Emak mereka sama dengan nama Emakku.
Pohon mangga tak lagi berbuah. Badrun abangku tak pernah pulang. Kasihan Emak dan para tetangga, Emak habis-habisan memikirkan Badrun. Kalau soal pohon mangga ini, biar kami yang mengurus, begitu yang ditawarkan para tetangga.
Kata Emak Badrun pandai memilih mangga yang masaknya paling sempurna. Dia kalau marah, suka sembunyi di pohon, bagaimana bisa tidak hapal. Kalau dia sembunyi sambil menangis, kata Emak, matanya jelalatan melihat mana mangga yang paling masak. Memang dia marah, tapi kalau turun dari pohon, ada empat sampai lima buah mangga yang dibawanya. Kata Emak, mangga yang diambil Badrun benar-benar manis.
Dia itu sebenarnya anak bail, tak pernah ia pulang membawa rapor merah. Bapak dan ibu guru selalu mengacungkan jempol untuknya. Cuma saying, saat ia lulus smp, Bapak meninggal. Lalu dia prig kerja. Dua bulan setelahnya baru aku lahir.
Tak ada Badrun, tak ada buah mangga. Mereka tinggalah cerita. Pohon mangga itu adalah peninggalan Eyang. Ditanam tepat ketika Emak lahir. Dan sekarang, pohon itu sakit.

***

Kursi panjang berbahan bamboo wuluh bikinan bapak itu sudah tak lagi kokoh . kalau aku rewel waktu kecil dulu, Emak sering menyanyi dan mendudukkanku di kursi bamboo itu. Sama, abangku kalau rewl begitu, juga Emak nyanyikan, kata Emak.

***

Ada banyak orang dirumah, sebagian disekitar pohon mangga. Mereka duduk di kursi bikinan Bapak itu. Dan yang ada di dalam rumah sebagian membacakan Surat Yasin, sebagian lagi mondar mandir di depan jendela.
Mata Emak makin mendekati terpejam. Tapi aku tahu dia itu melihatku. Aku masih memikirkan Badrun, kasihan Emak. Aku keluar sebentar melihat pohon mangga. Lalu masuk lagi menuju Emak.
“Bagaimana kalau Emak kita pindahkan kebawah pohon mangga,” kataku.
“Jangan! Biar di sini saja,” Kang Sarta melarang.
Tangan Emak melambai-lambai. Matanya terus menatapku. Semua orang memperhatikan. Emak sudah tak mampu bersuara. Hanya tinggal jemarinya menuding-nuding pohon mangga.
“Baiklah, kita pindahkan saja ke sana,” kang Sarta memutuskan cepat.
Dibawah pohon mangga Emak dibaringkan. Sudahlah mak, jangan terlalu banyak berfikir. Ini pohon mangga sudah banyak yang mengurus. Para tetangga makin rajin menyiramkan air cucian ikan.
Mata Emak menatap dahan yang merunduk. Di situ Badrun dulu sering bersembunyi.Kang Sarta juga tahu kalau Badrun suka bersembunyi di sana.
Aku memanggil Kang Sarta. Soal badrun, aku akan mengarang cerita buat Emak.mungkin Emak bisa sedikit lega. Kang Sarta tak mau ikut campur soal itu.
Aku mendekati Emak, tangannya melambai-lambai  mengelus jemariku. Mengenai kepergianku memenuhi undangan Kag Martin kemarin, ada sedikit kabar tentang Badrun. Kang Martin juga sudah lama tak pulang rupanya tahu keberadaan Badrun.
Kang Badrun baik-baik saja, mak. Kemarin dia nitip uang buat Emak. Dia akan pulang, tapi sebelumnya Emak harus sembuh. Pokoknya, kalau Emak sembuh, aku langsung menemui Kang badrun. Ingat, mak, harus sembuh dulu.
Emak menggeleng. Kang Sarta agak ragu, Dia menarikku.
“Bagaimana kalau Emak benar-benar sembuh? Akan kau cari di mana abangmu?”
“Belum tahu Kang, yang penting Emak sehat dulu.”
“Terus, kalau sudah sehat?”
***

Aku merasa dosaku sangat banyak, bohong kepada Emak soal Badrun. Hanya Emak yang tidak tahu. Di bawah tempatnya berbaring, itu adalah kuburan Badrun. Kemarin waktu Emak tak bisa bangun, aku pergi ke tempat yang ditunjukkan Kang Martin. Di sana memang tempat abangku bekerja. Tapi rupanya disana pula tempat abangku menghembuskan napas terakhir.
Kebetulan saat itu Emak sakit tak bisa bangun selama beberapa hari. Para tetangga sudah sepakat untuk merahasiakan itu. Yang Emak tahu, para tetangga menbaca Yasin untuknya. Padahal bukan. Yasin itu untuk Badrun.
“Abangku sakit apa Kang?” tanyaku kepada Kang martin.
“Wah aku tidak tahu, dia sudah terbaring tiga hari di kamar.”
Ah, makin pusing memikirkan hal itu. Yang penting sekarang Badrun sudah dimakamkan. Sekarang atau besuk pun dia juga akan meninggal. Tapi satu yang masih aku sayangkan. Emak. Hanya Emak. Kasihan Emak.
Apalagi dibawah pohon mangga itu mata Emak selalu berkaca. Kang Sarta menunjukkan wajah prihatin.
“Druuun,” kata Emak lirih.
“Druuun ….”
“badrun belum pulang, mak. Emak sembuh saja dulu.”
“Turun, Druuun …. Turun.”
Para tetangga ikut menatap apa yang ditatap Emak.
“badrun tidak disitu, mak,” Kang sarta meyakinkan.
“Druuun …. Turun Drun, turuuun …. “
“Mak, badrun pu;ang besuk, mak. Emak sudah sebuh saja dulu.”
Emak terus memanggil-manggil Badrun. Terus memanggil. Lirih, makin lirih, terus lirih, dan lirih.

Hammidun Nafi’ Syifauddin, cerpennya dimuat dalam buku kumpulan 20 Cerpen Terbaik Kemenpora 2011 dan antologiPembunuh Bulan Perawan (Soeket Teki). Lelaki kelahiran Jepara, 30 September 1990, masih tercatat sebagai Mahasiswa IAIN Walisongo Semarang.

Pemuda Lugu Ditipu Dedemit Waduk Lalung



Solopos-Warga desa suruhkalang, kecamatan Jaten dan Kelurahan Lalung, Kecamatan Karanganyar kota, geger, selasa (30/10) malam.
Penyebabnya bukan bentrok massa seperti yang terjadi di Provinsi Lampung beberapa hari terakhir. Melainkan gagalnya rencana pernikahan Suprapto, 27, pemuda lugu asal Jetisngungsuh RT 003/RW 004, Desa Suruhkalang, Jaten.
Suprapto batal menikahi perempuan pujaan hatinya, Sri Wahyuningsih, warga Kepruh RT 003/RW 013 Lalung, Karanganyar. Perempuan berparas cantik dan bertutur kata lembut itu menghilang saat keluarga Suprapto bermaksud melamarnya.
Informasi yang dihimpun Espos, Rabu (31/10), keluarga Suprapto tidak berhassil menemukan kediaman Sri Wahyuningsih yang berada tepat di pinggir Waduk Lalung, sejak Minggu (28/10). Keluarga Suprapto dibuat pusing tujuh keliling saat mencari rumah Sri Wahyuningsih yang dikabarkan sangat megah.
Bahkan menurut Suprapto, terdapat empat mobil mewah dan beberapa sepeda motor di rumah Sri. Ironosnya, saat diminta kediaman Sri yang dimaksudkan Suprapto, pemuda lulusan Sekolah Dasar (SD) itu menunjuk pohon beringin besar. Dibawah pohon beringin itu terdapat sendang.

Membiayai Pernikahan
Masyarakat Kepuh menyebut pohon beringin tersebut sebagai Sendang Sumur Bandung. Sontak keluarga Suprapto dan keluarga kaget bukan kepalang. Apalagi setelah memdengar pengakuan calon mempelai bahwa Sri sudah hamil tiga bulan ini. “Saya sedih dan kaget banget dengan Sri. Kemarin [selasa] dia masih meme,ui saya, tapi hari ini [rabu] tidak dating,” pengakuan Suprapto saat ditemui Espos di kediamannya.
Ironosnya lagi, Ytiyem, ibunda Suprapto, telah menjual stu petak tanahnya seluas 100 meter persegi seharga Rp. 20 juta. Rencananya uang hassil penjualan tanah akan digunakan untuk membiayai pernikahan anak keduanya itu. “Saya memang sudah pernah berbicara via ponsel dengan Sri. Suaranya lembut dan berbahasa sangat sopan. Sehingga tidak terpikirkan sedikitpun oleh saya kalau perempuan itu menipu.” Ucap Suprapto.
Keluarga Suprapto juga telah menyiapkan barangf serah-serahan berikut uang tunai dan perhiasan sebagai mahar. Kini, setelah Sri menghilang, barang-barang tersebut hanya bisa disimpan di salah satu ruang tidur rumah Suprapto.  Keluarga Suprapto dan warga Kepuh, Lalung, kemudian mengaitkan kejadian tersebut dengan cerita mistis yang terjadi di Waduk lalung. “warga menduga bahwa Sri adalah peri atau makhluk halus penunggu sendang pohon beringin,” ungkap  Yudi Suharto diamini sejumlah warga Kepuh.
Peristiwa itu juga mendapat perhatian jajaran Polsek Jaten dan Karanganyar Kota. Pada selasa malam, polisi dari dua Polsek itu telah mendatangi rumah Suprapto dan mengumpulkan informasi.

Soal UN SMA Tahun Ajaran 2012/2013 Akan 20 Paket Tiap Ruang



Soal Ujian Nasional jenjang SMA/MA/SMK akhir-akhir ini mengalami perubahan jumlah paket/variasi soal tiap ruang, mulai dari 2 paket yang berbeda namun isi soal sama hanya beda urutan soal saja yang berbeda tiap paket, kemudian 5 paket soal yang mengalami tipe, tipe pertama dari5 paket soal yang berbeda hanya urutan soal yang diacak, kemudia tipe kedua dari 5 paket memang berbeda teks soalnya namun mempertahankan bobot dan materi soal yang sama. Mulai tahun tahun ajaran 2012/2013 paket soal UN SMA akan 20 paket tiap ruang, artinya tiap peserta akan mendapatkan isi teks soal yang berbeda dengan yang lainnya.
Hasil UN SMA/MA/SMK yang sudah dilaksanakan hanya dipakai untuk melihat hasil belajar siswa/mengukur/memetakan hasil belajar siswa, namun mulai tahun ajaran 2012/2013 akan dapat dipakai seleksi masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur undangan. Tentunya hasil UN akan digabung dengan nilai laporan hasil belajar siswa (nilai raport).
Jika Hasil UN SMA/MA/SMK dapat dipakai seleksi masuk PTN, maka soal UN pun akan berbeda (karena soal UN yang sudah dilaksanakan soal-soalnya mengacu pada SKL yang bertujuan untuk mengukur hasil belajar siswa selama di SMA), untuk soal UN tahun ini bisa jadi soal-soalnya akan sedikit membebani siswa karena ada dua hal, pertama soal-soal yang berisi mengukur keberhasilan selama belajar di SMA dan yang kedua soal-soal untuk mengatahui potensi akademik dan keberhasilan calon mahasiswa selama kuliah.
Jika UN SMA seperti di atas terlaksana maka anggaran pelaksanaan UN dan seleksi masuk PTN yang besar bisa diefektifkan. Namun, mutunya tetap sesuai kebutuhan dengan yang diinginkan pemerintah dan PTN.
JAKARTA, KOMPAS.com — Materi soal ujian nasional jenjang SMA/MA/SMK pada 2013 direncanakan berubah. Hal itu untuk mengikuti keinginan pemerintah mengintegrasikan hasil ujian nasional untuk seleksi masuk calon mahasiswa di perguruan tinggi negeri lewat jalur undangan.


Nantinya soal ujian nasional (UN) SMA/MA/SMK didesain untuk mengukur prestasi siswa di jenjang akhir pendidikan menengah sekaligus memprediksi potensi siswa di perguruan tinggi. Akhir September 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ditargetkan punya format yang akan dibahas bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Indonesia. ”Pemerintah dan BSNP akan segera rapat membahas integrasi UN SMA/MA/SMK dengan seleksi perguruan tinggi. Kemungkinan ada perubahan soal UN yang sekaligus bisa untuk seleksi PTN,” kata Djemari Mardapi, anggota BSNP, di Jakarta, Rabu (12/9/2012). Menurut dia, pengintegrasian UN dengan seleksi masuk PTN selama ini masih pro-kontra. Sebab, UN untuk mengukur prestasi siswa di sekolah, sedangkan seleksi PTN memprediksi potensi akademik dan keberhasilan calon mahasiswa selama kuliah. ”Kami sedang mencoba untuk mengintegrasikan kebutuhan mengevaluasi prestasi dan prediksi lewat pelaksanaan UN,” kata Djemari. Jika terlaksana, anggaran pelaksanaan UN dan seleksi masuk PTN yang besar bisa diefektifkan. Namun, mutunya tetap sesuai kebutuhan dengan yang diinginkan pemerintah dan PTN. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, pemanfaatan hasil UN SMA/MA/SMK untuk masuk PT, khususnya PTN, harus dilaksanakan. Selama ini, hasil UN pada jenjang SD/MI dipakai dalam seleksi masuk SMP/MTs, sedangkan hasil UN SMP/MTs untuk SMA/MA/SMK. Namun, hasil UN SMA sederajat belum sepenuhnya diakui PTN karena dinilai belum valid akibat tingginya dugaan kecurangan. ”Kalau integrasi hasil UN ke seleksi masuk PTN terlaksana, beban siswa berkurang. Tidak hanya meringankan biaya, tetapi siswa tidak stres karena konsentrasi di UN sudah bisa dipakai untuk seleksi di PTN,” ujar Nuh. Sementara itu, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia Idrus Paturusi mengatakan, wacana integrasi hasil UN untuk seleksi PTN mulai diterima kalangan PTN. Namun, formatnya masih perlu dibahas. ”Bisa jadi dengan bobot persentase nilai UN dan nilai rapor,” kata Idrus, yang juga Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar. Kecurangan UN Terkait dengan kecurangan UN, Nuh menjelaskan, pemerintah berupaya lebih untuk meminimalkan hal itu tahun depan. Caranya, membuat soal dalam 20 variasi atau lebih. Ada juga rencana pemerintah menaikkan standar minimal kelulusan UN tahun 2013. Apalagi, kelulusan UN sudah mencapai 99 persen lebih.